THEO-ANTHROPOCENTRIC PARADIGM AND THE CONSTELLATION OF ISLAMIC LEGAL INTERPRETATION

Authors

  • Marzuki Umar UIN Alauddin Makassar, Indonesia
  • Andi Muh. Taqiyuddin BN Department of Islamic Family Law, STAI Al-Azhar Gowa, Indonesia
  • A. Qadir Gassing UIN Alauddin Makassar, Indonesia
  • Abdul Wahid Haddade UIN Alauddin Makassar, Indonesia

Keywords:

Theo-Anthropocentric Paradigm, Constellation, Islamic Legal

Abstract

paradigma teo-antroposentris terhadap konstalasi tafsir hukum Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, jenis penelitian adalah library research. Metode pengumpulan data  yang digunakan adalah studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa; 1) Pandangan Fazlur dan Abdullah adalah ide yang mengusung Teo-Antroposentris. Sangat beda dengan ide teosentrisme yang hanya memusatkan perhatian kepada pencipta serta turunannya. Penalaran yang digagas oleh Fazlur dan Abdullah memusatkan perhatian pada pencipta sekaligus manusia sehingga disebut sebagai teori gerakan ganda (double movement) yaitu pemahaman akan kondisi saat wahyu diturunkan sementara yang kedua penyesuaian situasi wahyu tersebut dengan apa yang terjadi sekarang. Mempertimbangkan aspek sejarah turunnya wahyu merupakan hal yang sangat penting karena wahyu merupakan cara Allah merespon dengan menggunakan manusia sebagai medianya yaitu para nabi. Allah merespon apa yang terjadi saat itu sesuai dengan waktu dan posisi nabi terutama kondisi sosial masyarakat di masa nabi. Ide Fazlur dan Abdullah terdiri dari tiga aspek yaitu filosofi, ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dalam aspek ontologi, Fazlur dan Abdullah memandang wahyu bukan sebuah buku hukum, akan tetapi Al-Qur’an merupakan sebuah petunjuk untuk manusia di semua masa dan tempat dan tidak dikecilkan menjadi buku hukum saja. Dalam aspek epistemologi, Fazlur dan Abdullah berkeyakinan bahwa wahyu merupakan sumber dari hukum. Al-Qur’an tidak dapat dimaknai dengan corak tekstual semata tapi penting untuk memperhatikan konstualisasi yang sejalan dengan keadaan sekarang. Sedangkan aspek aksiologi sangat terkait dengan etik dan moral yang diusung oleh teo-antroposentrisme. 2) Metode gerakan ganda yang diusung Fazlur dan metode kontekstualisme oleh Abdullah yang mewakili nalar refleksi yaitu mengawinkan metode deduktivisme dan induktivisme. Pemahaman ini mengintegrasikan waktu lampau di mana turunnya wahyu dengan kehidupan kontemporer. Teori gerakan ganda Fazlur adalah penggabungan antara nilai dan realita. Ketentuan Allah diyakini memiliki tujuan untuk menghasilkan maslahat bagi manusia dan maslahat selalu berwujud fakta. Fazlur memandang wahyu merupakan spirit bukan sesuatu yang langsung pakai. Fazlur menyebutkan wahyu bukan buku hukum tapi serangkaian petunjuk. Fazlur mengedepankan metode reflektivitas sedangkan Abdullah mengedepankan hirarki nilai yang keduanya berbasis maqasid.

Published

2024-06-25

How to Cite

Marzuki Umar, Andi Muh. Taqiyuddin BN, A. Qadir Gassing, & Abdul Wahid Haddade. (2024). THEO-ANTHROPOCENTRIC PARADIGM AND THE CONSTELLATION OF ISLAMIC LEGAL INTERPRETATION. AL-AHKAM ADDARIYAH, 1(1), 77–88. Retrieved from https://ejurnal.staiddimaros.ac.id/index.php/al-ahkam/article/view/138